Selasa, 10 Mei 2011

perkembangan pola pikir manusia

BAB I : PENDAHULUAN

 

Beberapa golongan manusia selama ini selalu berpikir bahwa akal dan pikiran merupakan sebuah alat ampuh untuk menjelaskan segala hal yang berada di sekeliling dirinya. Fenomena-fenomena alam, kejadian sosial dan berbagai kejadian di muka bumi diyakini mampu dijelaskan dengan akal dan pikirannya.

Keadaan ini mulai mendominasi kehidupan manusia, terutama di kalangan urban, sehingga mereka melihat segala sesuatu dengan akal pikiran. Dan, segala sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan alat tersebut dikatakan “irational”. Keadaan ini membuat saya tertarik mencoba memikirkan, apakah benar, akal itu sangat berguna untuk menjelaskan berbagai hal dan menginformasikan pada kita bahwa hal-hal yang di luar sistematika tersebut adalah suatu hal yang tidak benar. Atau singkatnya, segala hal yang tidak bisa diilmiahkan itu salah.

Akal mereject hal-hal yang berbau mistis dan sejenisnya. Namun, terdapat sebuah keadaan ironis disini, dimana bukti empiris tidak selamanya konsisten mereject keberadaan hal-hal mistis tersebut.

Suatu hal yang menarik dalam sejarah manusia adalah dimanapun peradaban manusia berada, pasti terdapat suatu hal yang berbau mistisme, padahal peradaban-peradaban itu terpisah berjuta-juta kilometer, dan mungkin tidak ada hubungan antara peradaban tersebut.

Di Rumania ada mitos tentang Count Dracula from Transylvania, the Flying Dutchman di Eropa, Rubah di Jepang, Kuntilanak dan sebangsanya di Asia Tenggara dan berbagai macam hal berbau mistis lainnya. Kalau memang hal tersebut sebenarnya bohong, kenapa dimanapun manusia berada pasti memiliki mitos-mitos seperti hal tersebut.

Apa hal ini bisa dikatakan sebagai kebohongan karena hal ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah??? Sedangkan disisi lain, faktanya keberadaan hal tersebut diyakini keberadaannya oleh masyarakat manapun didunia dengan versi yang berbeda. Bagaimana mungkin hal yang bohong diyakini oleh hampir seluruh peradaban yang telah ada didunia, sedangkan peradaban itu mungkin tidak pernah bertemu sebelumnya.

Mungkin ini adalah sedikit dari bagian yang tidak bisa dijelaskan oleh akal manusia. Dalam pembentukan model untuk menjelaskan berbagai hal, jika hanya menggunakan nalar, mungkin akan meninggalkan disturbance term (Error) yang cukup besar, karena banyak hal yang mungkin tidak bisa dijelaskan hanya oleh akal. Donald B. Calne, seorang Neurologist dari University of British Columbia dalam bukunya Within reason: Rationality and Human Behaviour hendak menjelaskan pada kita bahwa akal itu hanya merupakan sebuah Tools yang digunakan dalam proses berfikir kita. Masih banyak tools lain yang bisa digunakan untuk menjelaskan berbagai macam hal: naluri, Agama, kearifan lokal dan hal lain sebagainya yang terkadang dianggap non-sense oleh si akal sendiri, ternyata punya kemampuan tersendiri untuk menjelaskan hal-hal tersebut.

Tapi permasalahannya, apakah ada kemungkinan akal untuk terus bekerja selaras dengan tools lain yang terkadang saling bertentangan dan menghancurkan satu sama lainnya, walaupun di lain kesempatan mereka saling melengkapi. Dan ketika perbenturan antar tools itu terjadi, akan ikut kemanakah kita?


BAB II : PEMBAHASAN

 

A.  Perkembangan Pola Pikir Manusia

Munculnya ilmu pengetahuan adalah karena karakter unik yang dimiliki oleh manusia yaitu hasrat/keinginan untuk mengetahui. Manusia mempuyai rasa ingin tahu terhadap benda-benda di sekelilingnya, alam sekitar, matahari, bulan, tanaman, hewan dan semua makhluk hidup yang lainya. Tidak sampai di sini, manusia juga mempunyai hasrat untuk mengetahui tentang hakikat dirinya sendiri (antroposentris).
Rasa ingin tahu ini tidak dimiliki oleh makhluk lain, sebagaimana tanah, batu, angin, air. Bisa saja mereka dikatakan melakukan gerakan, namun gerakan itu hanya terbatas karena pengaruh ilmiah yang bersifat kekal. Bagaimana tentang binatang atau tumbuhan? Sebatang pohon menunjukkan aktivitas pertumbuhan atau gerakan, namun gerakan itu hanya untuk mempertahankan kelestarian hidupnya yang bersifat tetap. Akar bergerak mencari sumber makanan dan air, daun bergerak menuju arah cahaya. Tentu saja kecenderungan itu berlangsung sepanjang zaman. Bintang seperti ikan, burung, harimau dan binatang lain yang mempunyai tingkat eksplorasi yang lebih tinggi dari tumbuhan misalnya, mereka semua melakukan aktivitas. Namun tentu saja hanya terbatas bertujuan untuk mencari sumber makanan, menghindari sumber bahaya atau untuk melestarikan kehidupanya. Hal semacam itu bisa dikategorikan kepada pengetahuan, namun pengetahuan itu tidak akan bisa berkembang. Dengan kata lain tidak berubah dari zaman ke zaman. Rasa ingin tahu seperti itu oleh Asimov (1972) disebut dengan instink atau idle curiousity. Kemampuan ini hanya bekerja untuk tiga hal, mencari makan, melindungi diri, dan berkembang biak.
Begitu juga dengan manusia yang jelas-jelas dalam Al-Quran diamanahi sebagai khalifah di bumi ini, tentu hal ini menimbulkan konsekuensi, yaitu keutamaan manusia dari makhluk yang lainnya.Yang membedakanya dari makhluk lain adalah bahwa curiousity manusia selalu berkembang. Setelah menemukan tentang apa-nya, mereka juga ingin tahu tentang bagaimana dan mengapa.
Kemampuan manusia untuk mengkombinasikan daya pikirnya yang telah di dapat sebelumnya dengan pengetahuan baru ini akan membuat manusia semakin memperkaya diri dengan perbendaharaan pengetahuan. Sekedar contoh, manusia purba dahulu yang hanya bertempat tingagal di gua-gua, dengan akumulasi pengetahuanya berhasil menciptakan inovasi bagi kenyamanan dirinya. Mereka telah berhasil menciptakan rumah-rumah di atas pohon. Bahkan sekarang telah berhasil menciptakan gedung-gedung pencakar langit yang begitu menjulang. Apakah kita pernah menemukan ada seekor haimau yang hidup di dalam apartemen mewah yang indah sebagaimana manusia?
Rasa ingin tahu ini masih saja berkembang sampai sekarang, bahkan tidak hanya terbatas pada kebutuhan-kebutuhan yang bersifat praktis belaka, namun sudah sampai ke dalam tingkat hal-hal yang lebih efektif yaitu mendayagunakan seluruh alam ini, bahkan sampai kepada hal-hal yang menyangkut keindahan.
Manusia sebagai makhluk mempunyai ciri-ciri diantaranya:
1.      Memiliki organ tubuh yang kompleks dan unik terutama otak
2.      Adanya petukaran zat
3.      Respon terhadap rangasangan dari luar dan dalam tubuh
4.      Potensi untuk berkembang biak
5.      Tumbuh dan bergerak
6.      Berintegrasi dengan lingkungan
7.      Mati.
Maka, inilah yang menjadi alat vital bagi kelestarian peradaban manusia, yaitu mempunyai daya pikir yang lebih kuat dari daya fisik manusia sendiri. Berbeda dengan makhluk yang lain berfisik kuat, namun daya pikirnya lemah.
Dari dorongan untuk memcahkan masalah yang dihadapinya, manusia belajar untuk menciptakan solusi-solusi yang akhirnya berkumpul menjadi kumpulan pengetahuan. Hal ini tidak hanya pada alam sekitar, namun juga pada dirinya sendiri. Manusia pada intinya dapat mengamati fenomena alam sekitar yang berskala besar (makrokosmos) maupun kecil (mikrokosmos).
Berlangsungnya perkembangan pengetahuan tersebut lebih mendapatkan momentumnya karena ditunjang akan kemampuan bertukar informasi dengan melakukan aktivitas komunikasi dengan sesama. Begitu juga hal ini didukung oleh sifat manusia yang ingin maju, tidak pernah puas, dan tentu sifat untuk semakin memperbaiki diri.

B.  Mitos, penalaran, dan berbagai cara untuk memperoleh pengetahuan

Perkembangan yang begitu kentara dari manusia adalah adanya rasa ingin tahu tentang kebutuhan yang bersifat non-fisik, tidak hanya kebutuhan yang dihasilkan dari pengamatan inderawi. Manusia selalu bertanya pada hal yang bisa memuaskan alam pikiranya. Untuk hal itu mereka selalu mereka-reka sendiri jawaban dari segala pertanyaanya. “apakah pelangi itu?”, tentu itu adalah pertanyaan yang sangat berat bagi merke dahulu. Dengan segala kemampuanya mereka menjawab bahwa pelangi itu adalah selendang bidadari. Dari sini mereka mendapat pengertahuan baru yaitu adanya bidadari. Contoh lain mengapa gunung meletus?, jawaban dari fenomena out adalah karena yang menunggu gunung itu sedang arah. Dapat lagi satu pengetahuan baru yaitu yang berkuasa. Dengan cara yang sama munculah pengetahuan serupa yang biasa kita sebut sebgai mitos.
Mitos sendiri merupakan batu loncatan manusia untuk mengenal alam yang non-pragmatis dari alam ini. Mitos disebabkaan oleh keterbatasan indera manusia, seperti:
1.      Alat penglihatan
2.      Alat pendengaran
3.      Alat pencium/pengecap
4.      Alat perasa
Kemampuan indera manusia berbeda dari satu dengan yang lainya. Ada yang berkamampuan tajam ada juga yang lemah penglihatanya, penciumanya, atau indera yang lain. Akibat keterabatasan ini maka mungkin saja akan timbul salah tafsir, informasi dan mungkin juga salah pemikiran. Usaha-usaha yang telah dilakukan manusia adalah dengan menciptakan alat-alat yang dapat mambantu dalam mengamati fenomena alam ini, sekalipun itu terbatas. Namun saja manusia tak akan berhenti hingga mereka telah menduduk puncak kepuasan.
Jadi mitos boleh saja dipakai dalam masyarakat pada waktu out karena:
·         Keterbatasn pengetahuan akibat keterabtasan kemampuan indera maupun alat bantunya
·         Keterbatasan penalaran manusia pada masa itu
·         Hasrat ingin tahu sudah terpenuhi
Menurut auguste comte (1798-1857), dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, baik sebgai individu maupun keseluruhan, berlangsung dalam tiga tahap:
1.      Tahap teologi/fiktif, dalam tahap ini manusia berusaha untuk mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan akhir dari segala sesuatu. Tentu saja semua itu dihubungkan kepada kekuatan ghaib diluar kemampuan mereka sendiri. Mereka meyakini adanya kekuatan yang maha hebat yang menguasai semua fenomena alam entah itu dewa atau kekuatan ghaib lainya.
2.      Tahap filsafat/fisik/abstrak, tahap ini hampir sama dengan tahap sebelmnya. Hanya saja mereka mendasarkan semua itu pada kamampuan akalnya sendir, akal yang mampu untuk melakukan abstraksi antuk menemukan hakikat sesuatu.
3.      Tahap positif/ilmiah riil, merupakan tahap dimana manusia mampu untuk melakukan aktivitas berpikir secara positif atau riil. Kemampuan ini didapatkan melalui uasaha pengamatan, percobaan, dan juga perbandingan.
Jika kita hubungkan dengan mitos yang dilakukanmanusia, hal itu diperoleh karena keterbatasan pengalaman dan pemikiran, sehingga apa saja yang tidak dapat mereka temukan jawabanya, itu adalah hal yang diluar usash mereka. Yaitu apa saja yang dikuasai oleh kekuatan ghaib di luar daya mereka. Mitos sangat berpengaruh pada waktu itu, bahkan sampai sekarang pun masih saja ada suatu komunitas yang belum lepas dari jeratan mitos. sebgaiaman yang kita tamukan dalam masyarakat sekitar kita dengan menanggapi realitas dengan melakukan penyembahan, selamatan, tari-tarian, dan lagu-laguan.
Manusia secara terus menerus mengembangkan pengertahuannya tidak hanya menyangkut kebutuhan hidup. Mereka mencoba untuk merumuskan mana yang baik dan mana yang buruk, indah dan jelek.
Berpikir adalah kemampuan penalaran manusia dengan proses yang benar. Penalaran mreupakan usaha logis dan analisis untuk menemukan jawaban atas berbagai pertanyaaan. Kemampuan ini tidak didapat melalui perasaan. Namun tentu ada pengetahuan yang bersumber dari bukan penalaran, yaitu:
1.      Pengambilan kepitusan berdasarkan perasaaan
2.      Intuisi, kegiatanberpikir yang tidak analisis. Intuisi adalah pengetahuan yang timbul dari pengetahuan-pengetahuan terdahulu, intuisi bisa saja timbul menyelesaikan permasalahan tanpa proses berpikiran sistematis.
3.      Wahyu, merupakan sumber pengetahuan yang paling tinggi.
4.      Trial and error, mencoba dan menemukan kegagalan, mencoba lagi dan gagal lagi hingga menemukan cara yang benar-benar tepat.
Puncak hasil pemikiran manusia tesebut didapat pada zaman babylonia (700-600 SM). Pendapat mereka adalah bahwa bumi itu merupakan ruangan atau selungkup. Bumi itu lantai dan langit adalah atapnya. Horoskop, merupakan hasil dari peradaban ini. Yaitu ramalan nasib manusia berdasarkan perbintangan.
Sejalan dengan kemajuan zaman, dengan ditemukannya berbagai alat bantu untuk mengungkap fenomena alam itu, maka manusia sedikit demi sedikit beranjak untuk mendayagunakan akal mereka.
Ada beberapa tokoh yang atas sumbangsih terbesar bagi alam ini adalah:
1.      Anaximander 610-546 SM)
2.      Anaximenes (560-520 SM)
3.      Phytagoras (500 SM)
4.      Emedokles (480-430 SM)
5.      Plato (427-347 SM)
6.      Aristoteles (348-322 SM)

C.  10 Gejala Aneh Kacaukan Pikiran Manusia

Pikiran adalah sesuatu yang luar biasa. Sangat banyak hal mengenai pikiran yang masih berupa misteri hingga saat ini. Ilmu pengetahuan mungkin bisa menjelaskan bagaimana terjadi gejala-gejala aneh ini, tetapi tidak bisa menerangkan sebab-sebabnya. Barangkali di antara gejala-gejala aneh ini pernah dialami oleh Wikimuer. Bahkan mungkin pernah mengacaukan kehidupan anda.
Kita mempunyai beberapa pengalaman akan perasaan, yang datang kepada kita beberapa saat, dari apa yang kita katakan, dilakukan setelah dikatakan atau dilakukan sebelumnya, di suatu waktu yang lampau - dari hal-hal di sekeliling kita, berupa masa lalu, dengan wajah-wajah sama, benda-benda, dan keadaan - dari pengetahuan kita yang sempurna akan apa yang akan dikatakan nanti, seolah-olah kita tiba-tiba mengingatnya! - Charles Dickens

1. Deja vu

Deja vu adalah pengalaman tertentu akan sesuatu yang sedang berlangsung di mana anda sudah mengalaminya atau melihat situasi baru itu sebelumnya - anda merasa seolah-olah peristiwa telah terjadi atau sedang mengulanginya. Pengalaman itu biasanya disertai oleh perasaan yang kuat seperti sudah mengenal dan suatu perasaan berupa kengerian, asing, atau aneh. Pengalaman “yang sebelumnya” ini biasanya berhubungan dengan mimpi, tetapi kadang-kadang ada suatu perasaan pasti bahwa itu sudah terjadi di masa lalu.

2. Deja Vecu

Deja vecu (Dibaca deya vay-koo) adalah apa yang dialami banyak orang ketika mereka berpikir sedang mengalami deja vu. Deja vu adalah perasaan telah melihat sesuatu sebelumnya, sedangkan deja vecu adalah pengalaman setelah melihat suatu peristiwa sebelumnya, tapi hanya di dalam detil yang besar - seperti mengenali bau-bauan dan bunyi-bunyian. Hal ini juga biasanya disertai oleh suatu perasaan yang sangat kuat akan pengetahuan sesuatu yang akan datang kemudian. Pengalaman yang pernah terjadi - tidak hanya mengenal apa yang akan datang berikutnya - tetapi juga mampu mengatakan kepada orang di sekitar apa yang akan datang itu, dan biasanya itu adalah benar. Ini sangat aneh dan sensasi yang tidak bisa dijelaskan.

3. Deja Visite

Deja Visite adalah pengalaman yang hanya sedikit orang mengalaminya di mana melibatkan suatu pengetahuan gaib akan suatu tempat yang baru. Sebagai contoh, anda mungkin pernah mengetahui jalur jalan di suatu kota yang baru anda datangi atau pemandangannya meskipun tidak pernah ke sana sebelumnya, dan anda yakin mustahil mempunyai pengetahuan tentang itu. Kalau Deja Visite tentang hubungan-hubungan geografis dan ruang, selagi Deja Vecu adalah tentang kejadian-kejadian sementara waktu. Nathaniel Hawthorne menulis tentang sebuah pengalaman seperti ini di dalam bukunya “Our Old Home” di mana dia mengunjungi sebuah benteng yang sudah hancur dan mempunyai pengetahuan lengkap mengenai denah tata letaknya. Ia kemudiannya mampu melacak pengalaman itu dalam sebuah puisi karangan Alexander Pope yang dibacanya beberapa tahun kemudian. Puisi itu menggambarkan keadaan benteng itu dengan akurat persis seperti yang diketahuinya.

4. Deja Senti

Deja Senti adalah fenomena akan sesuatu yang pernah dirasakan. Hal ini eksklusif sebuah fenomena kejiwaan dan jarang menetap di dalam ingatan anda setelah itu. Di dalam kata-kata dari orang setelah mengalaminya adalah: “Apa yang menjadi perhatian adalah apa yang sudah diperhatikan sebelumnya, dan sungguh sudah dikenal, tetapi sudah dilupakan untuk sementara waktu, dan sekarang merasa puas seakan-akan hal itu telah diingat kembali. Kemampuan mengingat itu selalu dimulai dengan suara orang lain, atau oleh perkataan dari pikiranku sendiri, atau dengan apa yang kubaca dan perkataan jiwa. Aku pikir selama keadaan tidak normal aku berkata-kata secara umum beberapa kalimat sederhana seperti ‘Oh, ya. Aku mengerti’, ‘Tentu saja, aku ingat’, dan lain-lain, hanya satu atau dua menit kemudian aku dapat mengingat kembali semuanya, dengan tidak memerlukan kata-kata maupun pemikiran yang dinyatakan dengan lisan untuk menimbulkan ingatan. Aku hanya mendapatkan bahwa perasaan itu serupa dengan apa yang sudah kurasakan sebelumnya di dalam kondisi tidak normal seperti itu.”
Anda berpikir baru saja mengucapkannya, tetapi anda juga menyadari bahwa sesungguhnya tidak mengucapkan suatu kata pun.

5. Jamais Vu

Jamais vu (tidak pernah melihat) digambarkan sebagai sebuah situasi sudah pernah dikenal tapi tidak bisa mengenali. Hal itu sering dianggap sebagai kebalikan dari deja vu dan menimbulkan perasaan ngeri dan takut. Anda tidak mengenali sebuah situasi meskipun anda mengetahui secara rasional bahwa anda telah berada di dalam situasi itu sebelumnya. Secara umum dapat dijelaskan ketika seseorang beberapa saat tidak mengenali seseorang, kata, atau tempat yang sebetulnya sudah diketahuinya. Ini menjadikan orang percaya bahwa jamais vu merupakan sejenis gejala dari kelelahan otak.

6. Presque Vu

Presque vu sering diungkapkan dengan kata-kata, “serasa sudah di ujung lidah” - merupakan perasaan yang kuat bahwa anda akan mendapatkan petunjuk atau ilham akan apa yang terlupa, tapi tidak pernah datang. Istilah “presque vu” artinya “hampir melihat”. Sensasi presque vu dapat sangat mengacaukan perasaan dan pikiran, dan seringkali orang sudah tidur dibuatnya.

7. L’esprit de l’Escalier

L’esprit de l’escalier (lelucon di tangga rumah) adalah rasa untuk berpikir suatu komentar balasan yang cerdas ketika hal itu sudah terlambat untuk disampaikan. Ungkapan itu dapat digunakan untuk menguraikan tentang komentar balasan yang cepat terhadap penghinaan, atau setiap komentar pintar dan jenaka, walaupun kedatangannya sudah terlambat dan tidak berguna lagi diumpamakan kita berpikir ketika sudah berada di atas tangga meninggalkan suatu kejadian. Sebuah kata dari bahasa Jerman “treppenwitz” digunakan untuk maksud yang sama. Ungkapan yang terdekat di dalam bahasa Inggris untuk menguraikan situasi ini adalah “being wise after the event” atau menjadi bijaksana setelah kejadian. Peristiwa itu biasanya disertai oleh perasaan penyesalan karena tidak terpikirkan sebelumnya untuk memberikan komentar balasan yang cepat di saat diperlukan. Tapi mungkin lebih bijaksana kalau kita berpikir bahwa balasan itu mungkin bisa merunyamkan hubungan. Tuhan menyintai orang yang sabar dan menahan diri.

8. Capgras Delusion

Capgras delusion adalah fenomena di mana seseorang percaya bahwa sahabat karib atau keluarganya sudah berganti identitas seperti seorang penipu. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan kuno bahwa bayi-bayi telah dicuri dan digantikan oleh peri penculik anak dalam dongeng-dongeng di abad pertengahan, seperti juga khayalan modern mengenai makhluk asing atau alien yang mengambil alih tubuh dari orang-orang di bumi untuk dijadikan sekutu mereka. Khayalan ini ditemukan paling umum pada pasien berpenyakit jiwa, tetapi tidak menutup kemungkinan itu juga sudah mengacaukan pikiran anda.

9. Fregoli Delusion

Fregoli Delusion adalah fenomena otak yang jarang terjadi, di mana seseorang mempercayai bahwa orang-orang yang berbeda, sesungguhnya adalah orang yang sama yang sedang menyamar. Hal itu sering dihubungkan dengan paranoid dan kepercayaan bahwa orang yang menyamar itu sedang berusaha untuk menganiaya dirinya. Kondisi itu diberi nama seperti aktor Italia, Leopoldo Fregoli yang terkenal dengan kemampuannya untuk merubah diri secara cepat selama penampilannya aktingnya. Laporan pertama di 1927 dalam sebuah studi kasus pada seorang wanita berusia 27 tahun yang percaya dia sedang dianiaya oleh dua yang aktor yang sering dilihatnya di sebuah teater. Dia percaya kalau orang-orang ini “mengejarnya terus-menerus dengan berubah wujud seperti orang-orang yang dikenalnya”.

10. Prosopagnosia

Prosopagnosia adalah fenomena di mana seseorang tidak mampu mengenali wajah-wajah orang atau obyek yang seharusnya sudah dikenal. Orang-orang yang mengalami kekacauan ini biasanya mampu menggunakan perasaan lainnya untuk mengenali orang-orang, seperti bau parfum seseorang, bentuk atau gaya rambut, suara, atau bahkan gaya berjalan mereka. Suatu kasus yang klasik dari kekacauan ini dimuat dalam sebuah buku yang terbit tahun 1998 dan pernah ditampilkan dalam bentuk opera Michael Nyman berjudul “The man who mistook his wife for a hat” atau orang yang keliru akan istrinya karena topinya.




BAB III : PENUTUP

 

A.  KESIMPULAN

 

 Daftar Isi


BAB I : PENDAHULUAN.. 1
BAB II : PEMBAHASAN.. 3
A.     Perkembangan Pola Pikir Manusia. 3
B.      Mitos, penalaran, dan berbagai cara untuk memperoleh pengetahuan. 4
C.      10 Gejala Aneh Kacaukan Pikiran Manusia. 6
1. Deja vu. 6
2. Deja Vecu. 7
3. Deja Visite. 7
4. Deja Senti 7
5. Jamais Vu. 8
6. Presque Vu. 8
7. L’esprit de l’Escalier. 8
8. Capgras Delusion. 8
9. Fregoli Delusion. 8
10. Prosopagnosia. 9
. 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar